Translate

Selasa, 28 Oktober 2014

Abortus

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Rata-rata terjadi 114 kasus abortus perjam. Sebagian besar studi menyatakan kejadian abortus 15-20% dari semua kehamilan. Kalau dikaji lebih jauh kejadian abortus sebenarnya mendekati 50% . Hal ini dikarenakan tingginy angka chemical pregnancy loss yang tidak bisa diketahui pada 2-4 minggu setelah konsepsi. Sebagian besar kegagalan kehamilan ini dikarenakan kegagalan gamet (misalnya sperma dan disfungsi oosit)
Ternyata MONRO melaporkan bahwa fetus dengan berat 397 gram dapat hidup terus, jadi definisi tersebut diatas tidaklah mutlak. Sungguhpun bayi dengan BB 700-800 gr dapat hidup,tapi hal ini dianggap sebagai suatu keajaiban. Makin tinggi BB anak waktu lahir, makin besar kemungkinannya untuk dapat hidup terus.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas ,dapat dirumuskan suatu masalah yaitu:
  1. Apa itu abortus?
  2. Penyebab Abortus?
  3. Cara penanganannya?
1.3  Tujuan
Berdasarkan Rumusan masalah diatas tujuan dari pembuatan makalah ini untuk mengetahui pengertian abortus,penyebabnya,macam-macam abortus dan cara penangannya .
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Abortus
Keguguran adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Dibawah ini dikemukakan beberapa definisi para ahli tentang abortus. Menurut Eastman abortus adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup hidup sendiri diluar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 400-1000 gram, atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu. Menurut Jeffcoat abortus adalah pengeluaran dari hasil konsepsi sebelum kehamilan 28 minggu, yaitu fetus belum viable by law. Menurut Holmer abortus adalah terputusnya kehamilan sebelum minggu ke 16, dimana proses plasentasi belum selesai.
2.2 Penyebab dari Abortus
            Faktor-faktor yang menyebabkan kematian fetus adalah faktor ovum sendiri,faktor ibu,faktor dan faktor bapak.
a.      Kelainan Ovum
Menurut HERTIG dkkpertumbuhan abnormal dari fetus sering menyebabkan abortus spontan. Menurut penyelidikan mereka, dari 1000 abortus spontan, maka 48.5% disebabkan karena ovum yang patologis;3,2% disebabkan oleh kelainan letak embrio; dan 9.6% disebabkan karena plasenta yang abnormal.
Pada ovum abnormal 6% diantaranya terdapat degenerasi hidatid vili. Abortus spontan yang disebabkan oleh karena kelainan dari ovum berkurang kemungkinannya kalau kehamilan sudah lebih dari satu bulan, artinya mungkin muda kehamilan saat terjadinya abortus makin besar kemungkinan disebabkan oleh kelainan ovum (50-80%).
b.      Kelainan genitalia ibu
Misalnya pada ibu yang menderita
Ø  Anomali Kongenital (hipoplasia uteri,uterus bikornis,dan lain-lain)
Ø  Kelainan letak dari uterus seperti retrofleksi uteri fiksata.
Ø  Tidak sempurnanya persiapan uterus dalam menanti nidasi dari ovum yang sudah dibuahi, seperti kurangnya progesteron atau estrogen, endometritis,mioma submukosa.
Ø  Uterus terlalu cepat terengang (kehamilan ganda,mola)
Ø  Distorsio Uterus, misalnya karena terdorong oleh tumor pelvis.
c.       Gangguan sirkulasi plasenta
Kita jumpai pada ibu yang mendderita penyakit nefritis, hipertensi, toksemia gravidarum, anomil plasenta dan endarteritis oleh karena lues.
d.      Penyakit-penyakit ibu
Misalnya pada :
Ø  Penyakit infeksi yang menyebabkan demam tinggi seperti pneumonia, tifoid, pielitis, rubeola, demam malta, dan sebagainya. Kematian fetus dapat disebabkan krena toksin dari ibu atau invasi kuman atau virus pada fetus.
Ø  Keracunan Pb, nikotin, gas racun, alkohol, dan lain-lain.
Ø  Ibu yang asfiksia seperti pada dekompensasi kordis, penyakit paru berat, anemi gravis.
Ø  Malnutrisi, avitaminosis dan gangguan metabolisme, hipotiroid, kekurangan vitamin A,C atau E , diabetes melitus.
e.       Antagonis Rhesus
Pada antagonis rhesus, darah ibu yang melalui plasenta merusak darah fetus, sehingga terjadi anemia pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus.
f.        Terlalu cepatnya korpus luteum menjadi atrofis
Atau faktor serviks, yaitu inkompetensi serviks, sevisitis.
g.      Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi
Umpamanya: sangat terkejut, obat-obatan uterotenika, ketakutan, laparotomi, dan lain-lain. Atau dapat juga karena trauma langsung terhadap fetus: selaput janin rusak langsung karena instrumen, benda, dan obat-obatan.
h.      Penyakit bapak
Umur lanjut, penyakit kronis seperti: TBC, anemi, dekompensasik kordis, malnutrisi, nefritis, sifilis, keracunan (alkohol, nikotin, Pb, dan lain-lain) sinar rontgen, avitaminosis.
2.3 Macam Abortus dan cara Penanganannya
            Abortus dibagi dua golongan :
1.      Abortus Spontan
Abortus spontan yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis ataupun medisinalis, semata-mata disebabkan oleh faktor alamiah. Abortus dapat dibagi :
a.    Abortus Kompletus (Keguguran lengkap)
Artinya seluruh hasil konsepsi dikeluarkan (desidua daan fetus). Sehingga rongga rahim kosong.
Penanganannya:
Hanya dengan uterotonika
b.                              Abortus Inkomplektus (Keguguran bersisa)
Artinya hanya sebagian dari hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta.
Gejalanya:
Didapati antara lain adalah amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas ,pendarahan yang bisa seddikit atau banyak, dan biasanya berupa stolsel (darah beku). Sudah ada keluar fetus atau jaringan. Pada abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus provakatus yang dilakukan oleh orang yang yang tidak ahli, sering terjadi infeksi. Pada pemeriksaan dalam (V.T) untuk abortus yang baru terjadi didapati serviks terbuka,kadang-kadang dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kanalis servikalis atau kavum uteri, serta uterus yang berukuran lebih kecil dari yang seharusnya.
Penanganannya:
Bila ada tanda-tanda syok maka atasi dulu dengan pemberian cairan dan tranfusi darah. Kemudian keluarkan jaringan secepat mungkin dengan metode digital dan kuretase. Setelah itu beri obat-obat uteritonika dan antibiotika.
c.                         Abortus Insipiens (Keguguran sedang berlangsung)
Adalah abortus yang sedang berlangsung, dengan ostium sudah terbuka dan ketuban     yang teraba. Kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi.
Penanganannya :
Seperti abortus inkompletus.
d.    Abortus Iminens (Keguguran membakat)
Keguguran membakat dan akan terjadi. Dalam hal ini keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan memberikan obat-obat hormonal dan antipasmodika serta istirahat. Kalau pendarahan setelah beberapa minggu masih ada, maka perlu ditentukan apakah kehamilan masih baik atau tidk. Kalau reaksi kehamilan 2 kali berturut-turut negatif, maka sebaiknya uterus dikosongkan (kuret).
e.                         Missed Abortion
Adalah keadaan dimanaa janin sudah mati, tetapi tetap berada dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Fetus yang sudah meninggal ini biasanya bisa keluar dengan sendirinya dalam 2-3 bulan sesudah fetus mati, bisa  doresobsi disebut fetus papyraceus atau bisa jadi mola karnosa, diman fetus yang sudah mati 1 minggu akan mengalami degenerasi dan air ketubannya direabsorbsi.
Gejala:
Dijumpai amenorea, pendarahan sedikit-sedikit yang berulang pada permulaanya, serta selama observasi fundus tidak bertambah tinggi malahan tambah rendah. Kalau tadinya ada gejala-gejala kehamilan belakangan menghilang, diiringi dengan reaksi kehamilan yang menjadi negatif pada 2-3 minggu sesudah fetus mati. Pada pemeriksaan dalam, serviks tertutup dan ada darah sedikit. Sekali-ekali pasien merasa perutnya dingin dan kosong.
Penanganannya:
Berikan obat dengan maksud agar terjadi His sehingga fetus dan desidua dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil lakukan dilatasi dan kuretase. Dapat juga dilakukan histerotomia anteior. Hendaknya pada penderita juga diberikan tonika dan antibiotika.
Komplikasi :
Bisa timbul hipo atau afibrinogonemia. Fetus yang sudah mati begitu melekatnya pada rahim sehingga sulit sekai untuk dialkukan kuretase.
f.  Abortus Habitualis (Keguguran berulang)
Adalah keadaan diman penderita mengalami keguguran berturut-turut 3 kali atau lebih. Menurut HERTIG abortus spontan terjadi dalam 10% dari kehamilan dan abortus habitulis 3,6- 9,8% dari abortus spontan.
Kalau seorang penderita telah mengalami 2 kali abortus berturut-turut maka optimisme untuk kehamilan berikutnya berjalan normal adlah sekitar 63%. Kalau abprtus 3 kali beerturut-turut, maka kehamilan ke 4 berjalan normal hanya sekitar 16%.
Penyebabnya :
·         Kelainan dari ovum atau spermatozoa, dimana kalau terjadi pembuahan hasilnya adalah pembuahan yang patologis.
·         Kesalahan-kesalahan pada ibu, yaitu disfungsi tiroid, kesalahan korpus luteum, kesalahan plasenta, yaitu tidak sanggupnya plasenta menghasilkan progesteron sesudah korpus luteum atrofis. Ini dapat dibuktikan dengan mengukur kadar pregnandiol dalam urin. Selain itu juga bergantung kepada keadaan gizi si ibu (malnutrisi), kelainan antomis dari rahim, febris undulands (contagius abortion), hipertensi oleh karena kelainan pembuluh darah sirkulasi pada plasenta/vili terganggu dan fetus jadi mati. Dapat juga gangguan psikis, serviks inkompeten, atau rhesusu antagonisme.
Penanganannya:
            Pengobatan pada kelainan endometrium pada abortus habitualis lebih besar hasilnya jika dilakukan sebelum ada konsepsi daripada sesudahnya. Merokok dan minum akohol sebaiknya dikurangi atau dihentikan. Pada serviks inkompeten terapinya adalah operatif : SHIRODKAR atau MC DONALD (cervical cerclage).
g.   Abortus Infeksiosus dan Abortus Septik
     Abortus Infeksiosus adalah keguguran yang disertai infeksi genital. Abortusseptik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau toksinnya kedalam pereedaran darah atau peritonium.
Hal ini sering ditemukan pada abortus inkompletus, atau abortus buatan, terutama yang kriminalis tanpa memperhatikan syarat-syarat asepsis dan antisepsis. Bahkan pada keadaan tertentu dapat terjadi perforasi rahim.
Gejala:
·      Adanya abortus amenore, pendarahan, keluar jaringan yang telah ditolong diluar rumah sakit
·      Pemeriksaan kanalis servikalis terbuka, teraba jaringan, pendarahan, dan sebagainya.
·      Tanda-tanda infeksi alat genital demam, nadi cepat, pendarahan, berbau, uterus besar dan lembek ,nyeri tekan, lekositosis.
·      Pada abortus septik kelihatan sakit berat, panas tinggi, mengigil, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun sampai syok. Perlu diobservasi apakah ada tanda perforasi atau akut abdomen.
Penanganannya:
·           Bila pendarahan banyak, berikan transfusi darah dan cairan yang cukup
·           Berikan antibiotika yang cukup dan tepat (buat pemeriksaan pembiakan dan uji kepekaan obat).
·           24 jam sampai 48 jam setelah dilindungi dengan antibiotika atau lebih cepat bila terjadi pendarahan banyak lakukan dilatasi dan kuretase untuk mengeluarkan hasil konsepsi  
·           Infus dan pemberian antibiotika diteruskan menurut kebutuhan dan kemajuan penderita.
·           Pada abortus septik terapi sama saja , hanya dosis dan jenis antibiotika ditinggikan dan dipilih jenis yang tepat sesuai dengan hasil pembiakan dan uji kepekaan kuman.
·           Tindakan operatif ,melihat jenis komplikasi dan banyaknya pendarahan dilakukan bila keadaan umum membaik dan panas mereda.
2.      Abortus Provakatus (induced abortion)
Adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan mau pun alat-alat. Abortus ini terbagi lagi menjadi:
a)       Abotrus Medisinalis (abortus therapeutica)
Adalah abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis).
b)       Abortus Kriminalis
Adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.

BAB III
PENUTUP
3.1          Kesimpulan
     Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Jenis abortus bermacam-macam ada Abortus spontan dan abortus provokatus. Penyebabnya juga antara lain, kelainan ovum , kelainan genetalia ibu, gangguan sirkulasi plasenta, penyakit pada ibu, dll.
DAFTAR PUSTAKA
Sulistyawati Ari. 2012. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Salemba Medika.Yogyakarta
Prawirahardjo Sarwono. 2011. Ilmu Kandungan. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Yogyakarta
Mochtar Rustam. 1998. Sinopsis Obsetri. Buku Kedokteran EGC.Jakarta
Sarwono Prawirahardjo.2001.Buku panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar