Translate

Rabu, 15 Oktober 2014

Jurnal : Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian ASI Ekslusif



FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MATA KOTA KENDARI SULAWESI  TENGGARA TAHUN 2011


Ellyani Abadi


RINGKASAN

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2011(ix + 60 halaman + 17 tabel + 6 lampiran)

Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang paling baik untuk bayi. Susunan biokimia untuk kebutuhan bayi dapat  melindungi bayi dari bahaya kekurangan gizi maupun penyakit infeksi. Banyak faktor yang mempengaruhi seorang ibu dalam menyusui secara ekslusif kepada bayinya, antara lain yaitu Umur, Pendidikan,  Pengetahuan dan Pekerjaan ibu terhadap pemberian ASI. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Kendari, di ketahui bahwa dari 11 Puskesmas di Kota Kendari, Puskesmas Mata merupakan salah satu puskesmas yang menduduki urutan terendah dalam hal pemberian ASI yakni terdapat 37,5%  tahun 2008 dan pada tahun 2009 mengalami penurunan hingga mencapai 17% Kemudian pada tahun 2010 mencapai 23% (Dinkes Propinsi Sultra, 2010).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Sulawesi Tenggara Tahun 2011. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif analitik menggunakan pendekatan Cross Sectional Study. Populasi penelitian adalah semua ibu yang memiliki bayi  usia 7-12 bulan sebanyak 405 orang dengan jumlah sebanyak 108 orang. Penentuan sampel menggunakan metode Proportional Random Sampling. Analisis statistik menggunakan uji Chi-Square.
            Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 70 ibu yang berusia produktif, separuh dari ibu yang berusia produktif 57,1% (n=40) memberikan ASI Ekslusif, kemudian dari  57 ibu yang pendidikannya rendah, separuh dari ibu pendidikan rendah yaitu 59,6% (n=24) tidak memberikan ASI Ekslusif, disamping itu,hasil penelitian juga menunjukan bahwa dari  72 ibu yang pengetahuannya kurang, separuh dari ibu pengetahuan kurang yaitu 58,3% (n=42) tidak memberikan ASI Ekslusif. Kemudian dari  89  ibu yang tidak bekerja, separuh dari ibu yang tidak bekerja yaitu 52,8% (n=47) tidak memberikan ASI Ekslusif.
Kesimpulan penelitian yaitu ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI Ekslusif, dan tidak ada hubungan antara pendidikan, pengetahuan dan pekerjaan ibu dengan pemberian ASI Ekslusif. Saran di dalam penelitian ini adalah diharapkan bagi ibu yang berumur < 20 dan >35 tahun agar dapat merencanakan kehamilannya karena pada umur ini beresiko bagi janin dan hormon yang memproduksi ASI sudah berkurang dan bagi peneliti lain, hendaknya melakukan penelitian kualitatif dengan wawancara yang lebih mendalam dan juga meneliti faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian ASI Ekslusif.

Kata Kunci : ASI Ekslusif, Umur,  Pendidikan, Pengetahuan, Pekerjaan
Daftar Pustaka 22 (1989 – 2009)




PENDAHULUAN
Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 adalah meningkatnya kesehatan, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal melalui tercipta masyarakat bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai dengan perilaku sehat memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan optimal di seluruh tanah air (Almatsier, 2001).
          Almatsier, 2001 lebih lanjut mengatakan, bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas manusia adalah tingkat kesehatan, sedangkan tingkat kesehatan pada hakekatnya dipengaruhi oleh keadaan gizi khususnya pada awal kehidupan yang dikenal dengan masa bayi.
Status gizi ibu pada waktu melahirkan, dan gizi bayi itu sendiri sebagai faktor tidak langsung maupun langsung sebagai penyebab kematian bayi. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi bayi sangat perlu mendapat perhatian yang serius. Gizi untuk bayi yang paling sempurna dan paling murah adalah ASI atau Air Susu Ibu (Notoatmodjo, 2007)
Kebutuhan bayi akan zat gizi sangat tinggi untuk mempertahankan kehidupannya. Kebutuhan tersebut dapat tercukupi dengan memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi. ASI yang pertama keluar biasanya dikenal dengan kolostrum yang memiliki kadar protein yang lebih tinggi dari ASI mature. Tetapi kandungan lemak dan laktosannya (gula darah) lebih rendah dari ASI mature. Kolostrum juga mengandung vitamin A, B6, B12, C, D, K dan mineral, terutama zat besi dan kalsium. Komposisi seperti itu sangat tepat untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi baru lahir. Sama halnya dengan ASI mature, kolostrum juga mengandung enzim-enzim pencernaan yang belum mampu diproduksi oleh tubuh bayi, seperti protease (untuk menguraikan protein), lipase (untuk menguraikan lemak) dan amilasi (untuk menguraikan karbohidrat). Ini membuat kolostrum mudah sekali dicerna oleh sistem pencernaan bayi yang memang belum sempurna (Pudjiadji, 2000).
  Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang paling baik untuk bayi. Susunan biokimia untuk kebutuhan bayi dapat  melindungi bayi dari bahaya kekurangan gizi maupun penyakit infeksi. Banyak faktor yang mempengaruhi seorang ibu dalam menyusui secara Ekslusif kepada bayinya, salah satunya yaitu  pengetahuan ibu terhadap pemberian ASI secara Ekslusif, promosi susu formula dan makanan tambahan mempunyai pengaruh terhadap praktek pernberian ASI Ekslusif itu sendiri. Pengaruh-pengaruh tersebut dapat memberikan dampak negatif maupun positif dalam memperlancar pemberian ASI Eksklusif (Santoso & Ranti, 2004).
          Adapun faktor lain mempengaruhi pemberian ASI adalah faktor sosial budaya ekonomi seperti (pendidikan formal ibu, pendapatan keluarga dan status kerja ibu), ibu yang memiliki pendidikan tinggi, cenderung mempunyai pengetahuan yang cukup tentang ASI sehingga termotivasi memberikan ASI kepada anaknnya. Begitu juga dengan ibu yang bekerja, biasanya tidak memberikan ASI karena sibuk dengan pekerjaannya. Disamping itu faktor umur juga mempengaruhi pemberian ASI, semakin tinggi usia seseorang berarti ibu tersebut semakin dewasa dan lebih banyak mendapat infomasi tentang pentingnnya ASI sehingga mengutamakan pemberian ASI kepada ananya. Faktor fisik ibu, faktor kurangnya petugas kesehatan sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI Ekslusif (Soetjiningsih, 1997).
       Pemberian ASI di Indonesia mencapai 40,13%. Provinsi Sulawesi Tenggara, pada tahun 2008 prevalensi ibu menyusui yang memberikan ASI Ekslusif  adalah 54,81%, kemudian pada tahun 2009 hanya sekitar 33,48% dan pada tahun 2010 semakin menurun hingga 30,14% ibu yang memberikan ASI Ekslusif. Kota Kendari merupakan kota dengan urutan kedua terendah  dalam pemberian ASI Ekslusif  jika dibandingkan dengan 12 kabupaten/ kota di Provinsi Sulawesi Tenggara. Dimana prevalensi tertinggi yang memberikan ASI Ekslusif di Kota Kendari yaitu 32,51% dan terendah sebesar 24,57% (Dinkes Sultra, 2009).
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Kendari, di ketahui bahwa dari 11 Puskesmas di Kota Kendari, Puskesmas Mata merupakan salah satu puskesmas yang menduduki urutan terendah dalam hal pemberian ASI yakni terdapat 37,5%  tahun 2008 dan pada tahun 2009 mengalami penurunan hingga mencapai 17% Kemudian pada tahun 2010 mencapai 23%              (Dinkes Sultra, 2010).
Berdasarkan fenomena di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai ”Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Sulawesi Tenggara Tahun 2011.

BAHAN DAN METODE
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional Study Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus Tahun 2011 di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Sulawesi Tenggara.
Populasi adalah semua ibu yang memiliki bayi 7-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2011 sebanyak 405 orang
Sampel  adalah  ibu yang memiliki bayi 7-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari tahun 2011 sebanyak 108 orang.

JENIS DAN CARA PENGUMPULAN DATA
Data Primer
Data primer berupa data identitas, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan dan pemberian ASI Esklusif diperoleh melalui wawancara secara langsung menggunakan kuesioner.
Data Sekunder
      Data sekunder yaitu data demografi/profil Puskesmas Mata meliputi letak geografis, ketenagaan, sarana dan prasarana, sosial ekonomi, dan lain- lain, dapat diperoleh dari hasil penelusuran dokumen.

PENGOLAHAN DATA
a. Data umur ibu, diolah berdasarkan umur responden dan dibandingkan dengan kriteria objektif.
b.Pendidikan ibu diolah denganmengklasifikasikan jawaban responden dengan kriteria objektif.
c. Pekerrjaan ibu diolah dengan mengklasifikasikan jawaban responden dengan kriteria objektif.
d.Pengetahuan ibu diolah dengan menjumlahkan skor jawaban responden dan dibandingkan dengan kriteria objektif.        

ANALISIS DATA
          Analisis data berupa analisa deskriptif dan inferensial. Dalam analisis hubungan pola makan dengan status gizi digunakan  “ Uji Chi-Square” dengan rumus:
Keterangan :
 = Chi-square
abcd = Frekuensi pada sel
  = Faktor koreksi yates (Kontiyuitas)
N   = Jumlah sampel

Interprestasi hasil uji dikatakan bermakna dengan kriteria :
x2 hitung > x2 tabel = ada hubungan yang bermakna
x2 hitung < x2 tabel = tidak ada hubungan  yang  
                                   bermakna

PENYAJIAN DATA
Data disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.

DEFINISI OPERASIONAL
Pemberian ASI Esklusif adalah pemberian ASI pada bayi tanpa tambahan makanan lainnya ataupun cairan lainnya seperti susu formula, madu, teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat apapun seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim sampai usia enam bulan (Roesli, 2000). Dengan kriteria objektif : Dimana pada kuesioner yang menggambarkan ASI Eksklusif dari pertanyaan no, 4 s/d no,7.
a.       Ekslusif apabila pemberian ASI saja selama 0-6 bulan.
b.      Tidak Ekslusif apabila pemberian ASI 0-6 bulan ada tambahan makanan

Tingkat pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Maksudnya di sini adalah tingkat pendidikan ibu yang pernah dilalui sampai tamat, dengan kriteria objektif :
a.       Tinggi          : Memiliki pendidikan terakhir minimal SMA
b.      Rendah  : Memiliki pendidikan terakhir di bawah SMA (Tidak Sekolah, SD, SMP.  (Santoso & Ranti, 2004).
Status Bekerja adalah kegiatan yang dilakukan secara rutin atau kesibukan bekerja dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari. Maksudnya di sini adalah jenis profesi atau mata pencaharian ibu, dengan kriteria objektif
a.       Bekerja             : memiliki profesi atau mata pencaharian tertentu
b.      Tidak Bekerj : tidak memiliki profesi atau mata pencaharian tertentu (Soetjiningsih, 1997).
Tingkat Pengetahuan Gizi merupakan pengetahuan atau pemahaman masyarakat tentang pentingnya ASI Ekslusif yang dinilai berdasarkan jawaban responden terhadap pertanyaan yang diajukan sesuai dengan kuesioner. dengan kriteria objektif sebagai berikut :
a.       Cukup apabila skor jawaban responden > 60%
b.      Kurang apabila skor jawaban responden < 60% (Khomsan, 2000).          
Umur adalah masa hidup seseorang dalam kurun waktu tertentu, dengan kriteria objektif sebagai berikut :
a.       Produtif :  umur 20 sampai 35 tahun
b.      Tidak produktif     :  umur < 20 tahun dan > 35 tahun  (Notoatmodjo, 2007)

HASIL DAN BAHASAN
Karakteristik
Jumlah
n
%
Umur Bayi


7-9
10-12
66
42
61,1
38,9
Jenis Kelamin


Laki-Laki
Perempuan
51
57
47,2
52,8
Pendidikan Ibu


Tinggi
Rendah
51
57
47,2
52,8
Pengetahuan Ibu


Cukup
Kurang
36
72
33,3
66,7
Pekerjaan Ibu


Bekerja
Tidak Bekerja
19
89
17,6
82,4
Pemberian ASI Esklusif


Ekslusif
Tidak Ekslusif
51
57
47,2
52,8

Dari tabel diatas menunjukan bahwa sebesar   yaitu 61,1% sampel berada pada kategori umur 7-9 bulan. 52,8%  sampel berada pada kategori berjenis kelamin perempuan. 52,8 % sampel berada pada kategori pendidikan rendah. 66,7% sampel berada pada kategori pengetahuan gizi kurang. 82,4 % sampel berada pada kategori tidak memiliki pekerjaan (bekerja sebagai ibu rumah tangga). Tabel  diatas juga menunjukan bahwa  sebesar  yaitu 52,8 % sampel berada  pada kategori tidak memberikan ASI Ekslusif.

Hubungan Umur Ibu dengan Pemberian ASI Ekslusif

Pada penelitian ini diperoleh hubungan pola makan dengan status gizi, dimana lebih banyak sampel yang memiliki  status gizi dalam kategori normal dengan pola makan kurang.
Umur Ibu
PemberianASI Esklusif
Total
Ekslusif
Tidak Ekslusif
n
%
n
%
n
%
Produktif
40
57,1
30
42,9
70
100
Tidak Produktif
11
28,9
27
71,1
38
100
Total
51
47,2
57
52,8
108
100

Tabel di atas menunjukan bahwa dari  70 ibu yang berusia produktif,    sebesar yaitu 57,1 %  memberikan ASI Ekslusif, dan dari 38 ibu yang tidak berusia produktif, sebesar 71,1% tidak memberikan ASI Ekslusif.
Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square, diperoleh nilai p = 0,009, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara umur ibu dengan pemberian ASI Ekslusif
            Umur adalah lamanya seseorang hidup yang dihitung berdasarkan ulang tahun berikutnya. Pada umur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun dapat membahayakan ibu saat kehamilan dan persalinan dan meningkatkan resiko terhadap janinnya karena pada umur dari 20 tahun rahim dan panggul seringkali belum tumbuh mencapai ukuran dewasa. Akibatnya ibu hamil pada usia itu mungkin mengalami persalinan macet atau gangguan lain. Selain itu juga pada umur kehamilan kurang dari 20 tahun, ibu bersalin belum siap menerima tanggung jawab sebagai orang tua dan belum sepenuhnyya menghadapi kehamilan dan pada umur < 20 tahun ini fungsi organ reproduksi belum matang sedangkan pada umur > 35 tahun kesehatan ibu susah menurun akibatnya ibu hamil pada usia itu mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mempunyai anak cacat, persalinan lama dan perdarahan karena pada usia tersebut fungsi organ reproduksinnya sudah mengalami kemunduran dan hormon prolaktin dan oksitosin yang berada dalam tubuh menurun fungsinya karena hormon tersebut berpengaruh pada pemberian ASI Ekslusif, disamping itu ibu yang usia < 20, umumnya kurang dewasa dan informasi yang diperoleh tentang ASI Ekslusif masih kurang sehingga kesadaran untuk memberikan ASI Ekslusif masih kurang (Manuaba, 2001).
            Ada hubungan antara umur ibu dengan pemberian ASI Ekslusif. Hal tersebut disebabkan pada usia 25-35 tahun responden dalam keadaan masa produktif / aktif sehingga keterpaparan informasi tentang ASI Ekslusif lebih besar. Sedangkan pada umur > 35 tahun diaman produksi ASI sudah berkurang dan yang dikatakan pengalaman akan pemberian ASI Ekslusif akan  tetapi informasi yang didapat kurang, karena pada saat usia tersebut sebagian besar ibu tidak seaktif usia 25-35 tahun dengan berbagai kesibukan yang dialaminya.
            Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Himawan (2006) yang menemukan bahwa dari 90 ibu yang produktif terdapat 72,23% (n=65) memberikan ASI Ekslusif dan dari 40 ibu yang tidak produktif 75% (n=30) tidak memberikan ASI Ekslusif dengan hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square ditemukan ada hubungan antara umur ibu dengan pemberian ASI Ekslusif.
            Pada penelitian ini, usia produktif yang dimaksud adalah ibu yang berusia > 20 tahun dan < 35 tahun. Pada umur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun dapat membahayakan ibu saat kehamilan dan persalinan dan meningkatkan resiko terhadap janinnya karena pada umur dari 20 tahun rahim dan panggul seringkali belum tumbuh mencapai ukuran dewasa. Akibatnya ibu hamil pada usia itu mungkin mengalami persalinan macet atau gangguan lain. Selain itu juga pada umur kehamilan kurang dari 20 tahun, ibu bersalin belum siap menerima tanggung jawab sebagai orang tua dan belum sepenuhnya menghadapi kehamilan dan pada umur < 20 tahun ini fungsi organ reproduksi belum matang sedangkan pada umur > 35 tahun kesehatan ibu sudah menurun akibatnya ibu hamil pada usia itu mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mempunyai anak cacat, persalinan lama dan perdarahan karena pada usia tersebut fungsi organ reproduksinnya sudah mengalami kemunduran dan hormone yaitu hormon prolaktin dan oksitosin yang berada dalam tubuh menurun fungsinya karena hormone tersebut berpengaruh pada pemberian ASI Ekslusif, disamping itu ibu yang usia < 20, umumnya kurang dewasa dan informasi yang diperoleh tentang ASI Ekslusif masih kurang sehingga kesadaran untuk memberikan ASI Ekslusif masih kurang (Manuaba, 2001)

Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI Ekslusif

Pendidikan Ibu
Pemberian ASi Ekslusif
Total
Ekslusif
Tidak Ekslusif
n
%
n
%
n
%
Tinggi
28
54,9
23
45,1
51
100
Rendah
23
40,4
34
59,6
57
100
Jumlah
51
47,2
57
52,8
108
100









Tabel diatas menunjukan bahwa dari  57 ibu yang pendidikannya rendah, sebesar yaitu 59,6% tidak memberikan ASI Ekslusif, dan dari 51 ibu yang pendidikannya tinggi, sebesar 54,9%  memberikan ASI Ekslusif.
      Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square, diperoleh nilai p = 0,187,  sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan ibu dengan pemberian ASI Ekslusif.
Tidak adanya hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI Ekslusif  dimana dalam hasil penelitian terdapat ibu yang berpendidikan rendah memberikan ASI Eksklusif  karena belum tentu seorang ibu dengan pendidikan rendah maka pengetahuanya soal ASI Ekslusif rendah pula dimana pengetahuan itu tidak mutlak didapat dalam pendidikan formal akan tetapi bisa di dapat dalam pendidikan nonformal seperti banyak membaca, sering mendengarkan penyuluhan dan informasi yang berhubungan dengan ASI  kemudian masih terdapat  ibu yang berpendidikan tinggi tidak memberikan ASI Ekslusif dimana  mereka hanya sekedar tahu dan tidak menerapkan  atau mengiplikasikanya pada keluarga tentang pengetahuan tersebut  hal ini di temukan di lapangan dimana masih terdapat ibu-ibu dengan pendidikan tinggi akan tetapi tidak memberikan ASI Ekslusif pada bayi di sebabkan sedikitnya waktu cuti yang diberikan sehingga untuk memberikan ASI Ekslusif itu tidak bisa dimana waktu cuti yang diberikan selama 3 bulan sedangkan untuk melaksanakan ASI Ekslusif itu selama 6 bulan baru dikatakan ASI Ekslusif. Sedangkan untuk ibu yang berpendidikan  rendah justru  ada yang memberikan ASI Ekslusif ketahui bahwa penddikan itu bukan hanya di dapat dari pendidikan formal namun bisa melalui banyak bersosialisasi dengan tetangga, maupun melalui elektronik atau media massa. Hal ini memberikan gambaran bahwa pendidikan bukanlah faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemberian ASI Ekslusif.
            Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Himawan (2006) yang menemukan bahwa dari 90 ibu yang pendidikannya tinggi terdapat 38,89% (n=35) memberikan ASI Ekslusif dan dari 55 ibu yang pendidikannya rendah, 54,54% (n=30) memberikan ASI Ekslusif dengan hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square ditemukan tidak ada hubungan antara pendidikan ibu dengan pemberian ASI Ekslusif.
            Faktor  tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya , menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang ibu peroleh. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin tinggi pula tingkat kecakapan emosionalnya, serta semakin berkembang kedewasaan. Di sini jelas bahwa faktor pendidikan besar pengaruhnya terhadap perkembangan emosional dan intelektual dalam bersosialisasi dengan lingkungan. Pendidikan adalah suatu proses dimana manusia membina perkembangan manusia lain secara sadar dan berencana. Orang tua yang berpendidikan rendah, akan sulit beradaptasi dengan situasi dan kondisi dari kegiatan yang dilaksanakan sehingga dapat mempengaruhi dalam pemberian ASI Ekslusif (Rahayuningsih, 2005)






Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pemberian ASI Ekslusif

Pengetahuan Ibu
Pemberian ASi Ekslusif
Total
Ekslusif
Tidak Ekslusif
n
%
n
%
n
%
Cukup
21
58,3
15
41,7
36
100
Kurang
30
41,7
42
58,3
72
100
Jumlah
51
47,2
57
52,8
108
100
Tabel diatas menunjukan bahwa dari  72 ibu yang pengetahuannya kurang, sebesar yaitu 58,3% tidak memberikan ASI Ekslusif, dan dari 36 ibu yang pengetahuannya cukup, sebesar 58,3%  memberikan ASI Ekslusif.
      Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square, diperoleh nilai p = 0,152, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemberian ASI Ekslusif.
Tidak adanya hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemberian ASI Ekslusif disebabkan karena berdasarkan hasil penelitian masih ditemukan ibu yang pengetahuannya kurang yakni 41,7% (n=30) justru memberikan ASI Ekslusif pada anaknya, Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan tidak memberi pengaruh karena pengetahuan itu tidak mutlak di peroleh dari pendidikan formal. Dimana pengetahuan itu sendiri biasa di dapat dari luar lingkup pendidikan yaitu pengetahuan informal didapat dari media elektronik (TV, radio, atau alat elektronik lainya) dan media massa (Koran, Majalah, atau buku-buku pelajaran) maupun orang lain yang memberikan informasi tentang pengetahuan, sehingga bukan berarti dengan pendidikan rendah maka pengetahuanya rendah tentang pemberian ASI Ekslusif. Hal ini di temukan dilapangan banyak ibu-ibu dengan pendidikan dan pengetahuan rendah  memberikan ASI Ekslusif sehingga pengetahuan tidak berhubungan dengan pemberian ASI Ekslusif. Dimana ada juga faktor lain yang berperan di dalamya sehingga ibu tidak ASI Ekslusif salah satunya maraknya susu formula sehingga mempengaruhi ibu dalam praktek pemberian ASI, karena di masyarakat dan ibu-ibu menyusui berpendapat bahwa hanya ASI saja bayi tidak kenyang.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Herawati (2010) yang menunjukan bahwa dari 12 ibu yang pengetahuannya cukup (50%) diantaranya memberikan ASI secara Ekslusif dan dari 43 ibu yang pengetahuannya kurang (51,2%) diantaranya memberikan ASI Esklusif. Berdasarkan hasil analisis statistik dengan nilai x2 = 0,158, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan tingkat pengetahuan gizi ibu dengan pemberian ASI Ekslusif.

Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI Ekslusif

Pekerjaan Ibu
Pemberian ASi Ekslusif
Total
Ekslusif
Tidak Ekslusif
n
%
n
%
n
%
Bekerja
10
47,4
10
52,6
19
100
Tidak Bekerja
42
47,2
47
52,8
89
100
Jumlah
52
47,2
57
52,8
108
100
Tabel diatas menunjukan bahwa dari  89  ibu yang tidak bekerja, sebesar yaitu 52,8%  tidak memberikan ASI Ekslusif, dan dari 19 ibu yang bekerja, sebesar 52,6% tidak memberikan ASI Ekslusif.
Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square, diperoleh nilai p = 1,000, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan pemberian ASI Ekslusif.
Tidak adanya hubungan antara pekerjaan ibu dengan pemberian ASI Ekslusif disebabkan karena berdasarkan hasil penelitian sebagian besar yakni 52,8 (n=47), ibu yang tidak bekerja justru tidak memberikan ASI Ekslusif pada anaknya. Fenomena ini menunjukan bahwa status pekerjaan ibu bukanlah faktor yang menentukan perilaku ibu dalam pemberian ASI Ekslusif. Hal ini di karenakan informasi dari lingkunganya kurang apalagi ibu tersebut tidak aktif dalam berbagai kegiatan kesehatan maka informasi yang diterima akan lebih sedikit dan maraknya susu formula dalam masyarakat sehingga ibu enggan memberikan ASI Ekslusif yang di anggap lebih baik dari ASI karena dengan ASI saja bayinya rewel sehingga  di anggap belum kenyang apabila di berikan ASI Ekslusif itu belum cukup untuk bayinya.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Siregar (2009) yang menemukan bahwa pemberian ASI Eksklusif pada anak usia  4-6 bulan  yang dilakukan oleh 12,63% ibu yang berkerja sebagai karyawan sedangkan  21,27% dilakukan oleh ibu rumah tangga. Apabila dilihat dari pekerjaannya ternyata 75% dari ibu-ibu yang bekerja tidak memberikan ASI pada bayi.Hasil uji statistik menunjukan tidak ada hubungan pekerjaan ibu terhadap pemberian ASI Ekslusif pada anak.
Seorang yang mempunyai pekerjaan dengan waktu yang cukup padat juga akan mempengaruhi perilaku ibu dalam memberikan ASI pada anaknya. Pada umumnya orang tua tidak mempunyai waktu luang, sehingga semakin tinggi aktivitas pekerjaan orang tua semakin sulit memberikan ASI Ekslusif pada bayinya (Dewa, 2010).

KESIMPULAN
     Berdasarkan hasil penelitian dengan judul “Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Sulawesi Tenggara Tahun 2011” dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI Ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Sulawesi Tenggara Tahun 2011
2.      Tidak ada hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI Ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Sulawesi Tenggara Tahun 2011
3.      Tidak ada hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian ASI Ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Sulawesi Tenggara Tahun 2011.
4.      Tidak ada hubungan Status Bekerja ibu dengan pemberian ASI Ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Sulawesi Tenggara Tahun 2011.

SARAN
1.      Diharapkan bagi ibu yang berumur < 20 dan >35 tahun agar dapat merencanakan kehamilannya karena pada umur ini beresiko bagi janin dan hormon prolaktin dan oksitosin yang memproduksi ASI sudah berkurang.
2.      Bagi peneliti lain, hendaknya melakukan penelitian kualitatif dengan wawancara yang lebih mendalam dan juga meneliti faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian ASI Ekslusif.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghifari, Abu Syauqi, 2008, Pengertian Pendidikan, Tersedia dalam http://i-lib.ugm.ac.id/imampamungkas/download.php?dataId=8846 Diakses Tanggal 28 Mei 2010.
Almatsier, S, 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Bramastuti, Novia, 2009, Pengaruh Tingkat Pendapatan Keluarga Terhadap Motivasi, Tersediadalamhttp://www.etd.eprints.ums.ac.id/cgibin/berita/fullnews.cgi?newsid108451410864236, Diakses Tanggal 17 April 2010

Depkes, RI. 2001. Manajemen Laktasi.Tersedia dalam http://Litbang Depkes. co. Id/jdhyas/depkes/greasf.ids?newks2891735132.Diakses tanggal 20 April 2010.

Dewa, 2010. Pengertian ASI Eksklusif.Tersedia dalam http://pdf ASI.wordpress.com /download.phd?23ftg5004452/.Diakses tanggal 19 April 2010

Dinkes, 2009. Profil Kesehatan Sulawesi Tenggara. Dinas Kesehatan Kota Kendari.

Husaini, 2001.  Tumbuh Kembang dan Kebutuhan Gizi Bayi. Penerbit Bhrata Karya Aksara, Jakarta.

Himawan, 2006. Hubungan Antara Karakteristik Ibu dengan Status Gizi Balita di Kelurahan Sekarang  Kecamatan Gunungpati Semarang. Tesis  http://digilib.unnes.ac.id. Diakses tanggal 2 februari 2010.

Hurlock, 2002. Psikologi Perkembangan. Edisi 5. Jakarta. EGC

Khomsan, 2000.Pengetahuan Gizi.Tersedia dalam http://digilib.unimus.ac.idfilesdisk.     pdf. (Diakses tanggal 11/11/2010)

Mangunkusumo,  1990. Penuntun Diit Anak.  Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Manuaba, I Gede. 2001. Konsep Obstetri dan Ginekologi Ssial Indonesia. Penerbit Buku Kedokteran ECG: Jakarta.

Munadhiroh, Lina, 2009,  Hubungan Tingkat Sosial Ekonomi Keluarga Dan Pengetahuan Gizi Ibu Dengan Status Kadarzi Di Desa Subah Kecamatan Subah Kabupaten Batang Tahun 2008, Tesis. Tersedia dalam http://digilib.unnes.ac.id/, Diakses Tanggal 1 Mei 2010.

Notoatmodjo, S. 2007. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Pudjiadi, 2000. Ilmu Gizi Klinis Pada Anak. PT Gramedia Pustaka, Jakarta.

Rahayuningsih, Sri Utami, 2008, Sikap (Attitude), Tersedia dalam http://duniapsikologi.dagdigdug.com. Download.co.9212. Diakses Tanggal 17 April 2010.

Roesli, 2000. Mengenal ASI Eksklusif, Tubulus Agriwidya, Jakarta.

Santoso & Ranti, 2004. Kesehatan dan Gizi. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Soetjiningsih, 1997,  ASI Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan, Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Siregar, 2004. Pemberian ASI dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.Tesis. Bagian Gizi Kesmas Fakulas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatra Utara.

Suhardjo, 1989. Berbagai Cara Pendidikan Gizi. Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.

Wirawan, 2001, Komposisi Gizi dalam ASI.  Tesedia dalam. http/www.lusa.web.id/65819!. Diakses tanggal 27 April 2010.


2 komentar: